Senin, 30 Juni 2014

Minggu, 29 Juni 2014

Senin, 16 Juni 2014

Sabtu, 14 Juni 2014

Rabu, 11 Juni 2014

iwak lokal




SOS Ikan Lokal Indonesia Vs Ikan Introduksi Asing yang menjadi Hama

http://nefosnews.com/post/lingkungan/terancam-punah-ikan-sungai-di-sukabumi-dan-toba

Terancam Punah. Ikan Sungai di Sukabumi dan Toba - NEFOSNEWS

NEFOSNEWS, Jakarta - Warga Sukabumi mulai merasakan sulit mendapatkan ikan di sungai. Menjadi indikator punahnya ikan sungai di Sukabumi?

Terancam Punah. Ikan Sungai di Sukabumi dan Toba

6 Juni 2014 | 05:30Xlarge_bud-mey-warga-melemparkan-jala-untuk-menangkap-ikan-ilustrasi-_antara-foto_

NEFOSNEWS, Jakarta - Warga Sukabumi mulai merasakan sulit mendapatkan ikan di sungai. Menjadi indikator punahnya ikan sungai di Sukabumi?

"Ikan lokal tersebut seperti genggehek, beunteur dan arelot, dulu sering ditemui di sungai atau tempat air mengalir. Tetapi saat ini sudah jarang ditemui, bahkan bisa dikatakan hampir punah," papar M Muraz, Wali Kota Sukabumi, pada Rabu malam (4/6/2014).

Kondisi ini dirasa memprihatinkan bagi masyarakat Sukabumi, dan tak tercuali wali kota. Menurut Muraz, pihaknya telah memikirkan solusi mencegaH punahnya ikan sungai ini. Salah satu rencana yang akan digunakan oleh Muraz adalah berkoordinasi dengan pihak Balai besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi. Juga pihak lain, seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Muraz menginginkan adanya budidaya ikan lokal, agar kondisi berangsur-angsur membaik dan tidak terancam punah.  Jika sudah pulih, Muraz memastikan akan berdampak pada nilai ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat.

"Kami berharap BBPBAT dapat mengembangkan spesies ikan lokal di Sukabumi, agar jenis ikan lokal itu dapat dilestarikan dan populasinya kembali meningkat," ujarnya.

Punahnya jenis ikan air tawar, ternyata juga terjadi di Danau Toba, Sumatera Utara. Di danau ini ada satu spesies ikan yang hampir punah, yakni ikan Pora-pora. Ikan ini ditengarai bakal punah karena faktor eksploitasi berlebihan.

Pihak Dinas Pertanian dan Perikanan Sumatera Utara tanggap atas kasus tersebut. Nelayan setempat juga menamai ikan Pora-Pora dengan ikan kristal atau ikan kaca.

Menurut M Dani, peneliti LIPI, keberadaan ikan Pora-Pora tidak bisa dikonversikan dengan ikan lain. Jika satu populasi hilang, akan mengurangi lingkungan habitatnya. Untuk itu dia berharap, pemerintah segera memberikan penyuluhan terhadap warga untuk menjaga ekosistem di daerah danau toba.

"Sebaiknya pemerintah memberikan penyuluhan bagi para nelayan, agar menangkap ikan ukuran besar dan tertentu saja, sehingga perkembangan populasi Pora-Pora bisa tetap," kata M Dani.

Kondisi memprihatinkan di Sukabumi dan Danau Toba, ditanggapi Slamet Soebjakto, Dirjen Budidaya Perikanan KKP. Menurut Slamet, pihaknya akan terus mengembangkan komoditas ikan lokal untuk menjawab permintaan warga.

Upaya budidaya dan pengembangan ikan lokal akan terus dilakukan secara kontinyu. "Kami berupaya untuk mengembangkan metode budidaya agar ikan lokal tersebut bisa dipisahkan tidak hanya di alam saja, tetapi melalui rekayasa alam," kata Slamet. (dimeitri marilyn/ bim)

Caption Foto: Warga melemparkan jala untuk menangkap ikan - Ilustrasi (ANTARA FOTO)


Palmas


Lohan


Jumat, 06 Juni 2014